IMCNews.ID, Jambi - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak melonjak hingga Agustus 2023 jika dibandingkan dua tahun belakangan.
Data ini diketahui Unit Pelaksana Teknis Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak ( UPTD-PPA) Provinsi Jambi.
Kepala UPTD- PPA Provinsi Jambi, Asi Noprini menyebut, sejak Januari sampai 3 Agustus 2023 terdata 142 laporan kasus yang masuk.
Dia merincikan, dari 142 laporan tersebut, 43 pelapor perempuan, 93 pelapor anak laki-laki dan anak perempuan, dan 4 laporan laki-laki dewasa. Jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah hingga akhir tahun.
"Kalau perempuan terbanyak itu korban kekerasan psikis. Sedangkan anak-anak paling banyak jadi korban kekerasan seksual dan psikis," katanya belum lama ini.
Menurut Asi, dibandingkan tahun 2019 sampai 2021 angka kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2023 ini jauh lebih meningkat.
Pada tahun 2019 ada sebanyak 125 pelapor. Kemudian pada tahun 2020 ada 128 pelapor dan pada tahun 2021 sekitar 134 pelapor. Sedangkan untuk 2023 baru sampai Agustus sudah mencapai 142 laporan.
''Dari 142 laporan tersebut, 6 diantara adalah korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)," tuturnya.
Di kesempatan itu, Asi merincikan, korban kekerasan fisik, anak sebanyak 17 orang dan perempuan 6 orang.
Kemudian, korban psikis; anak sebanyak 89 orang dan perempuan 32 orang. Korban seksual; anak sebanyak 66 orang dan perempuan 15 orang.
Selanjutnya, korban penelantaran; anak sebanyak 1 orang dan perempuan 5 orang. Lalu, TPPO; anak 4 orang dan perempuan 2 orang, serta ada 5 orang anak yang memerlukan perlindungan khusus. (*)
Ketua DPRD Provinsi Jambj Lepas 17 Atlet Karate ke Kejurnas di Bandung
Oknum Napi Inisial BD Diduga Bebas Keluar Masuk Lapas Kota Jambi, Begini Respon Kalapas
Gubernur Al Haris Lepas Keberangkatan Jamaah Calon Haji Kloter Pertama Asal Jambi
Bertemu di Bungo, Edi Minta Menteri PU Bangun 7 Jembatan yang Rusak Akibat Banjir Bandang
Ini Syarat Dari Iran Jika Amerika dan Israel Ingin Berhenti Perang
Laporkan Kondisi Pertanahan ke Menteri ATR/BPN, Al Haris Ungkap Soal Konflik Lahan