IMCNews.ID, Jambi - Tumbuhan terap (Artocarpus Elasticus) banyak tumbuh di daerah Indonesia. Tumbuhan ini juga dapat ditemukan di kawasan Myanmar, Thailand, Malaysia, Brunei, dan Filipina.
Di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, pohon terap sering dimanfaatkan oleh masyarakat suku anak dalam atau orang rimba sebagai kebutuhan sandang. Mereka memanfaatkan serat kulit terap karena kerapatan serat yang padat.
Pohon Terap dapat tumbuh hingga 25 m dan batangnya memiliki diameter mencapai 40 cm. Siswa berprestasi SMAN 7 Sarolangun berhasil meneliti pemanfaatan kulit terap sebagai bahan dasar pembuatan warna kain mori batik.
Pewarna alami dari kulit terap dapat menjadi solusi dalam meminimalisir dampak buruk bagi lingkungan. Zat pada pewarna kulit terap antara lain flavonoid, fenolik, tannin, saponin, dan triterpenoid.
Pengolahan ekstrak kulit terap dilakukan dengan proses ekstraksi kulit terap kemudian dilakukan dengan 3 perlakuan (proses fiksasi) menggunakan tunjung (FeSO4), tawas (A12(SO4)3), kapur dinding (CaO).
Kain mori/kain dasar direndam menggunakan air ekstrak kulit terap selama 3 x 24 jam. Setelah itu dikunci menggunakan fiksator. Berdasarkan 3 perlakuan tersebut, warna yang dihasilkan berbeda-beda. Warna yang dihasilkan dominan pastel.

Untuk menguji bahwa sisa warna kulit terap tidak membahayakan lingkungan, kami melakukannya pada rumput dan tanah. Dari kegiatan tersebut, tidak ditemukan perubahan atau reaksi dari tanah dan rumput yang disiram dengan sisa warna kulit terap.
Limbah tersebut tidak mematikan rumput dan tanaman. Artinya percobaan ini membuktikan bahwa limbah/sisa pewarna alami kulit terap tidak memberi dampak buruk bagi lingkungan.
Pewarna batik terbagi mejadi dua yaitu Zat Warna Alami (ZWA) dan Zat Warna Sintesis (ZWS). Mereka membuat zat pewarna yang diberi nama “Ticus Orco” sebagai bahan pewarna batik yang merupakan kebudayaan Indonesia sekaligus bermanfaat untuk proses pembelajaran di SMA Negeri 7 Sarolangun tentang penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan.

Diharapkan dengan “Ticus Orco” dapat memperkaya warna dan menambah pesona pada kain batik dan semua masyarakat dapat melestarikan kebudayaan batik dengan tetap memperhatikan keselamatan lingkungan.
Untuk diketahui, pohon terap merupakan salah satu flora yang termasuk langka, namun memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan oleh manusia.
Sebagai tumbuhan hutan pohon terap kurang diperhatikan, karena masyarakat tidak mengetahui manfaatnya. Pohon terap termasuk dalam famili moraceae, masih berkerabat dengan nangka, sukun, dan cempedak.
Pohon terap dapat tumbuh di pinggir pantai hingga ketinggian 1000 mdpl. pohon terap tumbuh di daerah dengan curah hujan tinggi dan dapat tumbuh mencapai ketinggian 45 meter.
Pohon terap mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, retinol, beta karoten, niacin, thiamin, riboflavin, vitamin A dan vitamin C dan tioksidan, pencegah diare, dan dapat mengobati sariawan.
Di Provinsi Jambi, tepatnya Kabupaten Sarolangun pohon terap masih banyak dijumpai. Kayu pohon terap dapat bermanfaat sebagai konstruksi ringan, bagian daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk obat, dan bijinya dikonsumsi sebagai makanan kecil.
Pohon Terap merupakan jenis tumbuhan berumah tunggal (monoecious). Kulit terap diambil dari batang pohon terap. Kulit terap memiliki kerapatan serat yang padat sehingga sering diolah menjadi barang tekstil.
Pembatik dapat menggunakan pewarna organik dari kulit kayu terap dan dapat meminimalisir penggunaan pewarna sintesis yang banyak menggunakan zat kimia berbahaya sehingga berdampak terhadap kerusakan lingkungan sekitar.
Siswa siswi berprestasi ini melakukan penelitian kulit terap ini di sanggar batik SMA Negeri 7 Sarolangun. Peralatan batik yang lengkap sehingga mempermudah proses penelitian.
Istilah “Ticus Orco” diambil dari bahasa latin tumbuhan terap dan ‘Orco’ yang merupakan singkatan dari Organic Colour. Industri batik Dan sanggar batik sekolah tentu dapat menggunakan “Ticus Orco” yang ramah lingkungan.
Proses pembuatan pewarna alami batik ini juga cukup mudah dan keberadaan pohon Terap yang mudah didapatkan.
Kelebihan lain pewarna alami kulit terap ini adalah zat-zat pada pewarna alami ini mudah terurai sehingga aman bagi lingkungan dan tidak menimbulkan pousi.
Dilihat dari warna yang dihasilkan, pewarn alami kulit terap memberikan warna yang lebih lembut seperti warna pastel. Bahan pembuatan pewarna alami ini sangat mudah dijumpai seperti tumbuhan terap yang banyan tumbuh di daerah Indonesia serta tidak merusak serat kain.
Hasil penelitian ini telah dilombakan dalam kegiatan Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2024 yang dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor (IPB) serta meraih juara pertama.
Tim peneliti dari temuan ini yakni Muhammad Radhin Ramadan siswa kelas X fase E4, Nurul Azura siswi kelas: XI fb² (kesehatan), Adra Mufidha siswi kelas: X fase E1 dan Juandira El Ramadhan siswa kelas: X fase E3. Semuanya merupakan siswa dan siswi berprestasi di SMAN 7 Sarolangun. (*)
Kejati Jambi Sembelih 14 Ekor Sapi dan Bagikan Daging Kurban ke Masyarakat
Kejari Terima Pelimpahan Kasus Rudapaksa Oknum Anggota Polda Jambi
Gubernur Al Haris Serahkan Sapi Kurban Presiden Prabowo Seberat 930 Kilogram di Jambi
Hadiri Rapat Paripurna DPRD, Gubernur Dukung Penguatan Ranperda Inisiatif Dewan
Wakil Ketua DPRD Provinsi Ivan Wirata Soroti Ketahanan Pangan Jambi
Pencari Kerja Gigit Jari! Pemprov Jambi Tunda Penerimaan CPNS
Pesan Kapolda Jambi saat Lepas Keberangkatan 100 Personel Satbrimob Operasi Amole Papua