Inflasi Lebih Menentukan Ketahanan Ekonomi Dibanding Kurs Dolar

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:48:36 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi.

IMCNews.ID -  Penguatan dolar Amerika Serikat, dan tekanan inflasi yang masih membayangi banyak negara, perekonomian Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang cukup solid pada awal 2026.

Pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada triwulan I 2026 dinilai menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas domestik masih menjadi penopang utama ekonomi nasional.

Namun di balik capaian tersebut, muncul perdebatan mengenai faktor yang paling memengaruhi stabilitas ekonomi, apakah fluktuasi kurs dolar atau tekanan inflasi yang langsung menyentuh daya beli masyarakat.

Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan fondasi domestik yang masih kuat, meski tekanan global dan fluktuasi kurs dolar Amerika Serikat belum sepenuhnya mereda.

Menurutnya, capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen year-on-year menjadi sinyal bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah masih menjadi motor utama penggerak ekonomi nasional.

“Tentu hal ini menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tidak terlalu bergantung pada gejolak kurs dolar semata. Selama konsumsi masyarakat tetap bergerak, investasi tumbuh, dan pemerintah menjaga belanja produktif, ekonomi masih mampu bertahan dan tumbuh,” ujar Noviardi Ferzi, Senin (11/5/2026) kemarin.

Ia menjelaskan, stabilitas kurs rupiah di kisaran Rp17 ribuan terhadap dolar AS sejauh ini belum memberikan tekanan besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebab struktur ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang pasar domestik dibanding ekspor murni.

Menurut Noviardi, banyak pihak terlalu fokus melihat pergerakan dolar sebagai penentu utama ekonomi, padahal pengaruh terbesar justru datang dari inflasi.

Ia menilai inflasi memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, biaya produksi, hingga keputusan investasi pelaku usaha.

“Kalau kurs naik, dampaknya memang terasa pada barang impor dan sektor tertentu. Tetapi ketika inflasi naik, seluruh lapisan masyarakat langsung terkena. Harga kebutuhan pokok naik, biaya produksi ikut naik, dan akhirnya daya beli masyarakat melemah. Itu yang lebih berbahaya bagi pertumbuhan,” katanya.

Noviardi juga mengingatkan bahwa inflasi yang tidak terkendali dapat memaksa Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi itu berisiko memperlambat ekspansi usaha dan menahan investasi baru di daerah.

Karena itu, ia mendorong pemerintah tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga memperkuat pengendalian harga pangan, distribusi logistik, serta produksi sektor riil agar inflasi tetap rendah.

“Stabilitas rupiah penting untuk menjaga kepercayaan pasar, tetapi yang lebih penting adalah memastikan masyarakat tetap mampu membeli dan pelaku usaha tetap percaya diri melakukan ekspansi. Pertumbuhan ekonomi yang sehat harus terasa sampai ke sektor riil dan daerah,” ujarnya.

Ia menilai capaian pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada triwulan I 2026 patut diapresiasi, namun pemerintah tetap harus waspada terhadap perlambatan global, tekanan geopolitik, dan potensi kenaikan harga komoditas dunia yang dapat memicu inflasi baru.

“Momentum ini jangan membuat kita terlena. Tantangan ekonomi ke depan bukan hanya menjaga angka pertumbuhan tetap tinggi, tetapi memastikan kualitas pertumbuhan itu menciptakan lapangan kerja, menjaga daya beli, dan memperkuat ekonomi domestik secara berkelanjutan,” tutupnya. (*)



BERITA BERIKUTNYA